2-Chloroterephthalic Acid (2-Cl-TPA) adalah senyawa kimia yang digunakan sebagai bahan dasar dalam sintesis senyawa organik kompleks. Bahan ini sering ditemukan dalam berbagai reaksi kimia seperti esterifikasi, amidasi, dan reaksi substitusi elektrofilik. Dalam laboratorium, senyawa ini berperan sebagai bahan pembangun (building block) yang sangat penting untuk menghasilkan senyawa dengan struktur tertentu.
2-Chloroterephthalic Acid memiliki struktur aromatik dengan substituen klorin, yang memberikan sifat reaktivitas unik. Klorin pada posisi meta terhadap gugus karboksilat membuat senyawa ini lebih reaktif dibandingkan asam terephthalat biasa. Sifat ini menjadikannya pilihan ideal untuk reaksi substitusi dan reaksi yang memerlukan reaktivitas tinggi.
Dalam konteks laboratorium Indonesia, bahan ini sering digunakan oleh peneliti kimia dan ilmu material untuk pengembangan senyawa baru, seperti polimer, obat, atau bahan kimia industri. Ketersediaannya di pasar lokal menjadikannya pilihan yang praktis dan efisien untuk kebutuhan penelitian di berbagai institusi pendidikan dan penelitian.
- Sintesis senyawa aromatik kompleks yang memerlukan substitusi klorin
- Pembuatan polimer dengan struktur tertentu melalui reaksi esterifikasi
- Reaksi amidasi untuk menghasilkan senyawa amida dengan struktur spesifik
- Pengembangan senyawa farmakologis yang memerlukan struktur aromatik
- Penelitian material kimia untuk aplikasi industri dan lingkungan
| Merek | TCI |
|---|---|
| Nomor CAS | 1967-31-3 |
| Rumus molekul | — |
| Kemurnian | — |
| Kategori | Chemistry > Building Blocks > Non-Heterocyclic Building Blocks |
| Ukuran kemasan | 200mg |
| Bentuk fisik | Padat berbentuk kristal |
| Penyimpanan | Simpan dalam wadah tertutup rapat di tempat sejuk dan kering |
2-Chloroterephthalic Acid harus disimpan dalam wadah tertutup rapat untuk mencegah penguapan dan kontaminasi. Simpan di tempat sejuk dan kering, jauh dari paparan sinar matahari langsung dan sumber panas. Gunakan sarung tangan dan masker saat menangani bahan ini untuk mencegah kontak langsung dengan kulit atau napas. Pastikan area penyimpanan memiliki ventilasi yang baik dan tidak terbuka untuk mengurangi risiko kebocoran atau paparan berlebihan.
—
