Langsung ke informasi produk
1 dari 2

TCI

CAS 95-26-1

2,5-Dimethylbenzothiazole, CAS 95-26-1, TCI D1218

2,5-Dimethylbenzothiazole, CAS 95-26-1, TCI D1218

Identitas Kimia

No. CAS
95-26-1
PubChem
CID 7227·SID 87567760
Rumus molekul
C9H9NS
Berat molekul
163.24 g/mol
Kemurnian
>98.0%(GC)
Basis data rujukan
ChEBI·ECHA
Identifier lengkap (IUPAC, SMILES, InChIKey)
IUPAC
2,5-dimethyl-1,3-benzothiazole
SMILES
CC1=CC2=C(C=C1)SC(=N2)C
InChIKey
XHANCLXYCNTZMM-UHFFFAOYSA-N
MDL
MDL00005796
Harga reguler Rp 3.790.500,00
Harga reguler Rp 2.665.950,00 Harga obral Rp 3.790.500,00
Obral Habis
Biaya pengiriman dihitung saat checkout.
Berat
Jumlah
Pembayaran hanya melalui request quotation dan dilakukan setelah tim kami menghubungi Anda. Mohon cantumkan nomor WhatsApp aktif untuk konfirmasi pesanan & pembuatan invoice. Estimasi pengiriman 2-4 minggu setelah pembayaran.

Dokumen Keamanan & Mutu

CoA (Certificate of Analysis)

Spesifik per batch produksi — diterbitkan dan dikirim bersama barang sesuai nomor lot yang Anda terima.

Contoh CoA segera tersedia.

💬 Minta CoA via WhatsApp

Lihat detail lengkap

2,5-Dimethylbenzothiazole dari TCI adalah senyawa heterosiklik dengan inti benzotiazol, yaitu cincin benzena yang terfusi dengan cincin tiazol. Senyawa ini membawa satu gugus metil di posisi 2 pada cincin tiazol dan satu gugus metil di posisi 5 pada cincin benzena. Di laboratorium kimia organik, senyawa ini dipakai sebagai building block untuk pewarna sianin dan hemisianin, bahan antara sintesis turunan benzotiazol, serta senyawa model dalam riset heterosiklik bersulfur dan bernitrogen.

Gugus metil di posisi 2 adalah bagian yang paling menentukan kegunaannya. Karena berdampingan dengan atom C=N pada cincin, hidrogen pada metil tersebut cukup asam, terutama setelah nitrogen dikuaternisasi menjadi garam benzotiazolium. Metil yang teraktivasi ini dapat berkondensasi dengan aldehida atau senyawa elektrofilik lain untuk membentuk sistem terkonjugasi panjang. Gugus metil di posisi 5 ikut memengaruhi sifat elektronik dan kelarutan produk akhir, sehingga memberi variasi bagi peneliti yang menyetel warna dan sifat pewarna.

Di Indonesia, bahan ini relevan bagi laboratorium kimia organik, kimia material, dan biokimia yang mengembangkan pewarna fluoresen, probe optik, atau sensitizer. Benzotiazol juga merupakan kerangka yang sering diteliti dalam kimia medisinal di kampus-kampus farmasi. Kemasan 10g cukup untuk beberapa tahap kuaternisasi dan kondensasi, sekaligus memberi ruang untuk optimasi kondisi reaksi sebelum peneliti membuat seri turunan yang lebih luas.

  • Sintesis pewarna sianin: setelah dikuaternisasi, gugus metil di posisi 2 menjadi aktif dan dapat berkondensasi membentuk pewarna sianin atau hemisianin dengan serapan kuat.
  • Pengembangan probe fluoresen: kerangka benzotiazol yang terkonjugasi sering dipakai pada probe pendeteksi ion, pH, atau biomolekul, sehingga senyawa ini berguna sebagai titik awal desain.
  • Kondensasi dengan aldehida aromatik: metil teraktivasi bereaksi dengan aldehida membentuk turunan stiril-benzotiazol, berguna untuk riset bahan optik dan sensitizer.
  • Kimia medisinal benzotiazol: inti benzotiazol dijumpai pada banyak senyawa bioaktif, sehingga bahan ini membantu menyusun analog untuk uji aktivitas antimikroba atau antikanker.
  • Kajian heterosiklik bersulfur: struktur yang relatif sederhana dengan dua gugus metil menjadikannya senyawa model untuk mempelajari reaktivitas, spektroskopi NMR, dan sifat elektronik benzotiazol.

Merek TCI
Nomor CAS 95-26-1
Rumus molekul —
Kemurnian —
Kategori Chemistry > Building Blocks > Heterocyclic Building Blocks
Ukuran kemasan 10g
Bentuk fisik lihat label dan CoA untuk tiap lot
Penyimpanan wadah tertutup rapat, sejuk, kering, terlindung dari cahaya dan oksidator

Simpan 2,5-Dimethylbenzothiazole dalam wadah kaca asli yang tertutup rapat, di tempat sejuk, kering, dan berventilasi baik, terlindung dari cahaya dan jauh dari oksidator kuat serta asam kuat. Senyawa benzotiazol umumnya berbau khas, sehingga sebaiknya dibuka dan ditangani di lemari asam. Kenakan sarung tangan nitril, kacamata pengaman, dan jas laboratorium. Hindari menghirup uap atau debu serta kontak dengan kulit dan mata. Pastikan tutup kembali rapat setelah dipakai, dan buang limbah sesuai SDS.

  • (2017). Studies of Fe(II), Mn(II), Cr(II), Ni(II), Co(II) and Cu(II) Complexes with Schiff Base Derived from 2-Amino-4,6-dimethylbenzothiazole and Pyridine-2-aldehyde. Chemical Science Transactions doi:10.7598/cst2017.1354
  • Badiea dkk. (2009). Effect of temperature and fluid velocity on corrosion mechanism of low carbon steel in presence of 2-hydrazino-4,7-dimethylbenzothiazole in industrial water medium. Corrosion Science doi:10.1016/j.corsci.2009.06.011
  • Deshpande (2021). Study of Metal Complexes with Schiff Base Derived from 2-Amino-4, 6-dimethylbenzothiazole and Pyrrole-2- aldehyde. International Journal for Research in Applied Science and Engineering Technology doi:10.22214/ijraset.2021.37518

Referensi dihimpun otomatis dari Crossref dan setiap DOI diverifikasi keberadaannya. AMI Scientific tidak berafiliasi dengan penulis maupun penerbit.