2-Chloro-2-phenylacetophenone adalah senyawa kimia yang digunakan dalam berbagai reaksi organik sebagai bahan dasar atau bahan pembangun. Bahan ini sering ditemukan dalam sintesis senyawa aromatik dan heterosiklik, serta berperan dalam reaksi substitusi dan reaksi elektrofilik. Dalam laboratorium, senyawa ini digunakan untuk membangun struktur molekul kompleks yang diperlukan dalam penelitian kimia organik, farmakologi, dan material.
Senyawa ini memiliki struktur molekul yang stabil dan reaktivitas yang cukup tinggi, menjadikannya pilihan yang baik untuk berbagai reaksi kimia. Karena memiliki gugus kloro dan fenil, senyawa ini memiliki sifat polar dan dapat berinteraksi dengan berbagai reaktan lainnya. Karakteristik ini membuatnya cocok untuk digunakan dalam sintesis senyawa dengan struktur tertentu.
Di laboratorium Indonesia, senyawa ini digunakan secara luas dalam penelitian dan pengembangan senyawa baru, terutama dalam bidang farmasi dan kimia organik. Bahan ini sering ditemukan dalam laboratorium universitas dan lembaga penelitian yang fokus pada sintesis senyawa aktif biologis.
- Sintesis senyawa aromatik kompleks yang membutuhkan reaktivitas tinggi.
- Pengembangan senyawa farmakologis dengan struktur fenil dan kloro.
- Reaksi substitusi elektrofilik dalam sintesis senyawa heterosiklik.
- Penelitian dalam bidang kimia organik untuk membangun struktur molekul baru.
- Penggunaan dalam reaksi katalitik untuk mempercepat proses sintesis kimia.
| Merek | TCI |
|---|---|
| Nomor CAS | 447-31-4 |
| Rumus molekul | — |
| Kemurnian | — |
| Kategori | Chemistry > Building Blocks > Non-Heterocyclic Building Blocks |
| Ukuran kemasan | 5g, 25g |
| Bentuk fisik | Padat berbentuk serbuk |
| Penyimpanan | Simpan dalam wadah tertutup rapat di tempat sejuk dan kering |
2-Chloro-2-phenylacetophenone harus disimpan dalam wadah tertutup rapat di tempat sejuk dan kering untuk mencegah reaksi dengan kelembapan atau oksigen. Penggunaan wadah kaca atau plastik yang tahan terhadap kimia disarankan. Dalam penanganan, perlu dihindari kontak langsung dengan kulit dan mata, serta penggunaan alat pelindung diri seperti sarung tangan dan kacamata pelindung.
—
