2,6-Dichlorobenzyl Alcohol adalah senyawa kimia yang digunakan dalam berbagai reaksi sintetik di laboratorium. Bahan ini merupakan salah satu komponen penting dalam pembuatan senyawa organik kompleks, terutama dalam sintesis senyawa aromatik dan heterosiklik. Karena struktur kimianya yang stabil dan reaktivitas yang terkendali, senyawa ini sering digunakan sebagai bahan baku dalam berbagai penelitian ilmiah dan pengembangan produk kimia.
Senyawa ini memiliki sifat kimia yang memungkinkan reaksi substitusi dan reaksi oksidasi, sehingga sangat cocok untuk digunakan dalam reaksi kimia yang memerlukan manipulasi struktur molekul. Karena kemurniannya tinggi dan konsistensi kualitas, senyawa ini dipilih sebagai bahan baku yang dapat diandalkan dalam laboratorium.
Di laboratorium Indonesia, senyawa ini digunakan dalam penelitian kimia organik, pengembangan obat, dan produksi bahan kimia industri. Karena kebutuhan akan senyawa sintetik yang stabil dan terkendali, senyawa ini menjadi pilihan utama untuk berbagai aplikasi ilmiah dan industri di sini.
- Sintesis senyawa aromatik kompleks karena kemampuannya dalam reaksi substitusi
- Pengembangan obat dengan struktur senyawa aromatik yang termodifikasi
- Reaksi kimia organik yang memerlukan bahan baku stabil dan terkendali
- Penelitian tentang aktivitas biologis senyawa kimia baru
- Pembuatan bahan kimia industri yang memerlukan reaktivitas terkendali
| Merek | TCI |
|---|---|
| Nomor CAS | 15258-73-8 |
| Rumus molekul | — |
| Kemurnian | — |
| Kategori | Chemistry > Building Blocks > Non-Heterocyclic Building Blocks |
| Ukuran kemasan | 25g |
| Bentuk fisik | Padat berbentuk serbuk |
| Penyimpanan | Simpan dalam wadah tertutup rapat di tempat sejuk dan kering |
Senyawa ini harus disimpan dalam wadah tertutup rapat di tempat sejuk dan kering untuk mencegah kontaminasi dan penguapan. Karena sifatnya yang kimia, wadah harus terbuat dari bahan tahan korosi seperti plastik atau gelas. Selama penanganan, harus menggunakan alat pelindung diri seperti sarung tangan dan masker untuk mencegah kontak langsung dengan kulit atau inhalasi.
- Thormann dkk. (2009). Allergic contact dermatitis from dichlorobenzyl alcohol in a patient with multiple contact allergies. Contact Dermatitis doi:10.1111/j.1600-0536.2009.01533.x
- Østergaard (1994). Evaluation of the antimicrobial effects of sodium benzoate and dichlorobenzyl alcohol against dental plaque microorganisms: An in vitro study. Acta Odontologica Scandinavica doi:10.3109/00016359409029031
- Morokutti-Kurz dkk. (2017). Amylmetacresol/2,4-dichlorobenzyl alcohol, hexylresorcinol, or carrageenan lozenges as active treatments for sore throat. International Journal of General Medicine doi:10.2147/ijgm.s120665
Referensi dihimpun otomatis dari Crossref dan setiap DOI diverifikasi keberadaannya. AMI Scientific tidak berafiliasi dengan penulis maupun penerbit.
