2,6-Dichloroanisole adalah senyawa kimia yang digunakan sebagai bahan dasar dalam berbagai reaksi kimia. Bahan ini sering ditemukan dalam berbagai aplikasi sintesis organik, terutama dalam pembuatan senyawa heterosiklik atau senyawa dengan struktur kompleks. Sebagai salah satu komponen utama dalam kelompok non-heterosiklik building blocks, senyawa ini memiliki potensi untuk berpartisipasi dalam reaksi substitusi elektrofilik atau reaksi pereduksian.
Karakteristik utama dari 2,6-Dichloroanisole adalah keberadaan dua klorin pada posisi 2 dan 6, yang memberikan sifat elektron menarik dan meningkatkan reaktivitas senyawa tersebut. Struktur molekulnya yang stabil dan kemampuannya untuk berpartisipasi dalam berbagai reaksi kimia membuatnya menjadi pilihan yang baik dalam laboratorium. Selain itu, senyawa ini memiliki sifat kimia yang dapat diprediksi, sehingga memudahkan dalam penggunaan dan manipulasi di lingkungan laboratorium.
Di laboratorium Indonesia, 2,6-Dichloroanisole sering digunakan dalam penelitian ilmiah, terutama di bidang kimia organik dan farmasi. Bahan ini menjadi bagian dari proses sintesis senyawa aktif biologis yang memerlukan struktur tertentu. Ketersediaannya di pasar lokal juga memudahkan para peneliti untuk melakukan eksperimen tanpa harus mengimpor bahan dari luar negeri.
- Sintesis senyawa heterosiklik untuk pengembangan obat baru
- Reaksi substitusi elektrofilik dalam pembuatan senyawa aromatik
- Penelitian tentang aktivitas biologis senyawa organik
- Pengujian katalis dalam reaksi kimia organik
- Pembuatan senyawa intermediat untuk produksi bahan kimia industri
| Merek | TCI |
|---|---|
| Nomor CAS | 1984-65-2 |
| Rumus molekul | — |
| Kemurnian | — |
| Kategori | Chemistry > Building Blocks > Non-Heterocyclic Building Blocks |
| Ukuran kemasan | 25g |
| Bentuk fisik | Padat berbentuk serbuk |
| Penyimpanan | Simpan dalam wadah tertutup rapat dan jauh dari paparan cahaya langsung |
2,6-Dichloroanisole harus disimpan dalam wadah tertutup rapat dan ditempatkan di area yang sejuk serta kering. Hindari paparan langsung dari sinar matahari dan udara lembap untuk mencegah degradasi. Saat menangani bahan ini, pastikan untuk menggunakan alat pelindung diri seperti sarung tangan dan masker. Bahan ini bersifat kimia yang mungkin menyebabkan iritasi, sehingga perlu dihindari kontak langsung dengan kulit atau mata.
- Ribeiro da Silva dkk. (2008). Thermochemical study of four isomers of dichloroanisole. The Journal of Chemical Thermodynamics doi:10.1016/j.jct.2008.02.003
- Park dkk. (2013). Extent of Nucleophilic Participation in the Solvolyses of an Aryl Chloromethyl Ether, α, p -Dichloroanisole. Journal of Chemical Research doi:10.3184/174751913x13734534378121
- Ramu dkk. (2010). Temperature‐ and pressure‐dependent study of 35Cl NQR frequency and spin lattice relaxation time in 2,3‐dichloroanisole. Magnetic Resonance in Chemistry doi:10.1002/mrc.2627
Referensi dihimpun otomatis dari Crossref dan setiap DOI diverifikasi keberadaannya. AMI Scientific tidak berafiliasi dengan penulis maupun penerbit.
