2,3-Dichlorobenzyl Alcohol adalah senyawa kimia yang digunakan dalam berbagai reaksi kimia untuk sintesis senyawa kompleks. Bahan ini sering ditemukan dalam laboratorium kimia sebagai bahan dasar (building block) dalam pembuatan senyawa organik. Dalam konteks laboratorium, senyawa ini berperan sebagai prekursor dalam reaksi substitusi dan reaksi lain yang memerlukan grup fungsi tertentu.
Karakteristik utama dari 2,3-Dichlorobenzyl Alcohol adalah struktur molekulnya yang memiliki dua klorin pada posisi 2 dan 3 pada cincin benzene, serta gugus hidroksil pada posisi 1. Struktur ini memberikan sifat reaktivitas yang tinggi, membuatnya cocok untuk berbagai reaksi kimia. Karena sifatnya yang stabil dan mudah diubah dalam kondisi tertentu, senyawa ini sering dipilih dalam sintesis senyawa dengan struktur kompleks.
Di laboratorium Indonesia, 2,3-Dichlorobenzyl Alcohol digunakan dalam penelitian kimia organik, terutama dalam bidang farmasi dan bahan kimia industri. Bahan ini menjadi bagian penting dalam pengembangan senyawa baru yang memiliki aplikasi dalam kesehatan dan teknologi.
- Sintesis senyawa organik kompleks yang memerlukan substitusi klorin pada cincin aromatik
- Reaksi substitusi nukleofilik untuk pembentukan senyawa dengan struktur baru
- Pembuatan senyawa intermediat dalam proses sintesis obat
- Penelitian tentang reaktivitas senyawa aromatik dengan gugus fungsi tertentu
- Pengembangan bahan kimia industri yang memerlukan modifikasi struktur molekul
| Merek | TCI |
|---|---|
| Nomor CAS | 38594-42-2 |
| Rumus molekul | — |
| Kemurnian | — |
| Kategori | Chemistry > Building Blocks > Non-Heterocyclic Building Blocks |
| Ukuran kemasan | 5g |
| Bentuk fisik | Padat berbentuk serbuk |
| Penyimpanan | Simpan dalam wadah tertutup rapat di tempat sejuk dan kering |
2,3-Dichlorobenzyl Alcohol harus disimpan dalam wadah tertutup rapat untuk mencegah kontak dengan udara dan kelembapan. Bahan ini sebaiknya disimpan di tempat yang sejuk dan kering, serta jauh dari sumber panas dan sinar matahari langsung. Dalam penanganan, pengguna harus memakai sarung tangan dan masker untuk menghindari kontak langsung dengan kulit atau inhalasi. Bahan ini tidak boleh dicampurkan dengan bahan kimia lain yang tidak kompatibel, dan harus dikelola sesuai dengan protokol keselamatan laboratorium.
- Thormann dkk. (2009). Allergic contact dermatitis from dichlorobenzyl alcohol in a patient with multiple contact allergies. Contact Dermatitis doi:10.1111/j.1600-0536.2009.01533.x
- Morokutti-Kurz dkk. (2017). Amylmetacresol/2,4-dichlorobenzyl alcohol, hexylresorcinol, or carrageenan lozenges as active treatments for sore throat. International Journal of General Medicine doi:10.2147/ijgm.s120665
- Østergaard (1994). Evaluation of the antimicrobial effects of sodium benzoate and dichlorobenzyl alcohol against dental plaque microorganisms: An in vitro study. Acta Odontologica Scandinavica doi:10.3109/00016359409029031
Referensi dihimpun otomatis dari Crossref dan setiap DOI diverifikasi keberadaannya. AMI Scientific tidak berafiliasi dengan penulis maupun penerbit.
