TCI H0619 2,4-Hexadiyne-1,6-diol adalah senyawa diasetilena simetris yang membawa gugus hidroksil pada kedua ujung rantainya. Struktur berisi dua ikatan rangkap tiga terkonjugasi ini menjadikannya bahan yang istimewa di laboratorium kimia material, sebab kerangka diasetilena mampu menjalani polimerisasi topokimia pada keadaan padat ketika dipicu sinar ultraviolet atau pemanasan terkendali. Hasilnya berupa polidiasetilena, polimer terkonjugasi berwarna yang banyak diteliti karena mampu berubah warna sebagai tanggapan terhadap rangsangan suhu, tekanan, pelarut, maupun interaksi molekul tertentu.
Karakteristik yang membuat senyawa ini dipilih adalah kombinasi rantai diasetilena yang reaktif secara topokimia dengan dua gugus hidroksil terminal yang mudah dimodifikasi. Gugus hidroksil dapat diesterifikasi, diuretanisasi, atau diubah menjadi gugus pergi, sehingga peneliti dapat mengatur pengemasan molekul dalam kisi kristal, faktor yang justru menentukan berhasil tidaknya polimerisasi padatan. Simetrinya juga menyederhanakan penafsiran spektrum NMR dan inframerah. Sebagai monomer bifungsional, senyawa ini pun dapat dipakai menyusun poliester atau poliuretan yang mengandung segmen terkonjugasi. Perlu diingat bahwa senyawa poliasetilena umumnya peka terhadap cahaya dan panas, sehingga penyimpanan yang tepat menjadi bagian penting dari pemakaiannya.
Di Indonesia, bahan ini umumnya dijumpai pada kelompok riset material fungsional, sensor kimia, dan nanoteknologi di universitas atau lembaga penelitian yang mengembangkan sensor kolorimetrik berbasis polimer terkonjugasi. Kemasan 1 g dan 5 g sudah memadai untuk pekerjaan skala penelitian, karena percobaan polimerisasi topokimia dan pembuatan vesikel sensor biasanya hanya memerlukan bahan dalam jumlah kecil namun dengan mutu yang terjaga.
- Sintesis polidiasetilena melalui polimerisasi topokimia, karena susunan ikatan rangkap tiga terkonjugasi memungkinkan pembentukan polimer berwarna langsung dalam fase padat.
- Pengembangan sensor kolorimetrik, sebab polimer hasilnya menunjukkan perubahan warna terukur saat menerima rangsangan suhu, pelarut, atau analit tertentu.
- Pembuatan monomer bifungsional terkonjugasi, mengingat dua gugus hidroksil ujungnya siap direaksikan menjadi poliester maupun poliuretan dengan segmen kaku.
- Kajian kimia kristal dan rekayasa pengemasan molekul, karena keberhasilan polimerisasi padatan sangat bergantung pada geometri susunan monomer dalam kisi.
- Sintesis organik senyawa asetilenik lanjutan, sebab kerangka diasetilena dapat dikembangkan melalui reaksi kopling, adisi, maupun siklisasi terarah.
| Merek | TCI (Tokyo Chemical Industry) |
|---|---|
| Nomor CAS | 3031-68-3 |
| Rumus molekul | — |
| Kemurnian | — |
| Kategori | Chemistry > Building Blocks > Non-Heterocyclic Building Blocks |
| Ukuran kemasan | 1 g, 5 g |
| Bentuk fisik | padatan kristalin; rujuk Certificate of Analysis produk |
| Penyimpanan | simpan di tempat sejuk, kering, dan terlindung dari cahaya |
Senyawa diasetilena peka terhadap cahaya dan panas karena keduanya dapat memicu polimerisasi yang tidak dikehendaki, sehingga bahan wajib disimpan dalam wadah tertutup rapat, terlindung cahaya, dan di tempat sejuk, idealnya di lemari pendingin laboratorium. Gunakan botol kaca gelap dan hindari penyimpanan berdekatan dengan sumber panas maupun bahan pengoksidasi kuat. Lakukan penimbangan di lemari asam pada pencahayaan redup, kenakan sarung tangan, kacamata pelindung, dan jas laboratorium. Perhatikan perubahan warna bahan sebagai tanda awal polimerisasi selama penyimpanan.
—
