Phenol dari TCI adalah senyawa aromatik paling sederhana yang mengandung gugus hidroksil langsung terikat pada cincin benzena. Senyawa ini merupakan salah satu bahan kimia dasar yang paling luas penggunaannya, baik sebagai reagen sintesis, bahan awal pembuatan berbagai turunan aromatik, maupun senyawa referensi dalam analisis. Di laboratorium kimia, fenol menjadi bahan penting untuk mempelajari reaktivitas cincin aromatik teraktivasi dan untuk menyiapkan eter, ester, serta senyawa tersubstitusi lainnya.
Fenol dipilih karena gugus hidroksilnya bersifat asam lemah dan sangat mengaktifkan cincin aromatik terhadap substitusi elektrofilik pada posisi orto dan para. Sifat ini membuat fenol mudah dihalogenasi, dinitrasi, atau diasilasi. Gugus hidroksilnya juga dapat dideprotonasi menjadi ion fenoksida yang nukleofilik, sehingga cocok untuk sintesis eter Williamson dan esterifikasi. Kombinasi reaktivitas pada oksigen dan pada cincin menjadikan fenol bahan awal yang sangat fleksibel dalam sintesis organik maupun pengajaran.
Di laboratorium Indonesia, fenol dibutuhkan oleh laboratorium pendidikan kimia, riset sintesis organik, kimia analitik, dan pengembangan polimer. Dosen dan laboran memakainya untuk praktikum reaksi aromatik serta uji identifikasi gugus fungsi, sedangkan peneliti menggunakannya sebagai bahan awal maupun standar. Perlu dicatat bahwa untuk ekstraksi asam nukleat biasanya dipakai fenol dengan grade khusus biologi molekuler yang sudah didapar. Kemasan 25 gram ini praktis untuk skala praktikum dan riset.
- Substitusi elektrofilik aromatik: gugus hidroksil mengaktifkan cincin secara kuat sehingga fenol ideal untuk mempelajari halogenasi, nitrasi, dan sulfonasi pada posisi orto dan para.
- Sintesis eter aril melalui reaksi Williamson: ion fenoksida yang terbentuk dengan basa bersifat nukleofilik dan bereaksi dengan alkil halida menghasilkan aril eter.
- Pembuatan ester fenil: fenol dapat diasilasi dengan klorida asam atau anhidrida, sehingga berguna untuk mempelajari esterifikasi dan menyiapkan intermediet sintesis lanjutan.
- Uji identifikasi gugus fungsi di praktikum: fenol memberikan reaksi khas, misalnya dengan besi(III) klorida atau air brom, yang sering diajarkan dalam kimia organik dasar.
- Standar dan pembanding analitik: fenol dapat dipakai sebagai senyawa referensi dalam kromatografi dan spektrofotometri, termasuk pada pengembangan metode penetapan senyawa fenolik.
| Merek | TCI (kode produk P1610) |
|---|---|
| Nomor CAS | 108-95-2 |
| Rumus molekul | — |
| Kemurnian | — |
| Kategori | Chemistry > Building Blocks > Non-Heterocyclic Building Blocks |
| Ukuran kemasan | 25g |
| Bentuk fisik | umumnya berupa padatan kristal; rujuk label dan CoA untuk detail |
| Penyimpanan | simpan tertutup rapat, terlindung dari cahaya, udara, dan kelembapan |
Fenol bersifat toksik dan korosif, serta dapat diserap dengan cepat melalui kulit, sehingga penanganannya memerlukan kehati-hatian tinggi. Selalu kenakan sarung tangan yang sesuai, jas laboratorium, dan pelindung mata, serta bekerja di lemari asam. Simpan dalam wadah asli tertutup rapat, di tempat sejuk, kering, gelap, dan berventilasi, karena fenol dapat berubah warna akibat paparan udara dan cahaya serta menyerap kelembapan. Jauhkan dari oksidator kuat. Pahami prosedur pertolongan pertama dalam SDS sebelum menggunakan.
- Oliveira (2015). Phenol (CAS 108-95-2). Revista Virtual de Química doi:10.5935/1984-6835.20150087
- Ksiażczak dkk. (1994). Solid-liquid-vapour equilibrium of binary systems phenol + hexane, phenol + heptane and 4-methylphenol + hexane. Fluid Phase Equilibria doi:10.1016/0378-3812(94)80079-0
- Parija dkk. (1997). Lacto-Phenol Cotton Blue Stain for the Wet Mount Preparation of Hydatid Fluid. Tropical Doctor doi:10.1177/004947559702700223
Referensi dihimpun otomatis dari Crossref dan setiap DOI diverifikasi keberadaannya. AMI Scientific tidak berafiliasi dengan penulis maupun penerbit.
