6-Methyl-5-hepten-2-one (TCI M0252) adalah senyawa keton tak jenuh bercabang yang di kalangan kimiawan organik lebih akrab disebut methylheptenone atau sulcatone. Molekulnya memadukan gugus karbonil keton dengan satu ikatan rangkap karbon–karbon pada rantai yang sama, sehingga senyawa ini berperan sebagai kerangka dasar (building block) untuk membangun molekul terpenoid dan turunan asiklik berantai panjang. Di laboratorium sintesis organik, bahan ini kerap menjadi titik awal pembuatan senyawa aroma, intermediat isoprenoid, serta rantai samping molekul kompleks yang akan sangat merepotkan bila harus disusun dari fragmen yang lebih kecil satu per satu.
Yang membuat senyawa ini dipilih adalah keberadaan dua pusat reaktif yang dapat dibedakan perlakuannya. Gugus karbonilnya siap menerima serangan nukleofil, mengikuti reaksi Grignard, reduksi, kondensasi aldol, maupun pembentukan enolat, sedangkan ikatan rangkap trisubstitusinya dapat diarahkan pada epoksidasi, hidrogenasi selektif, maupun reaksi ene. Kombinasi ini memberi peneliti fleksibilitas untuk memperpanjang rantai karbon dari satu ujung sambil menyimpan ujung lain untuk tahap berikutnya. Wujudnya berupa cairan sehingga mudah diukur dengan mikropipet atau syringe, dan mudah dilarutkan dalam pelarut organik yang lazim dipakai di bangku kerja.
Di laboratorium Indonesia, bahan ini banyak digunakan oleh kelompok riset kimia organik sintesis di perguruan tinggi, laboratorium kimia bahan alam yang menelusuri jalur biosintesis terpenoid, serta unit riset dan pengembangan industri flavor dan fragrance. Kemasan 25 mL sesuai untuk skala penelitian tesis, disertasi, maupun optimasi reaksi berulang, karena volumenya cukup untuk beberapa seri percobaan tanpa menyisakan stok besar yang berisiko menurun mutunya selama penyimpanan panjang di iklim tropis.
- Sintesis terpenoid dan isoprenoid: kerangka tujuh karbon bercabangnya sudah menyerupai unit isoprena, sehingga memangkas banyak tahap pembangunan rantai dari awal.
- Reaksi Grignard dan organolitium: gugus keton bereaksi bersih dengan reagen organologam untuk menghasilkan alkohol tersier bercabang yang sulit diperoleh lewat jalur lain.
- Kondensasi aldol dan Wittig: posisi alfa terhadap karbonil mudah dienolkan, memungkinkan pembentukan ikatan karbon–karbon baru secara terkendali di laboratorium.
- Studi epoksidasi selektif: ikatan rangkap trisubstitusi memberi model yang baik untuk menguji kemoselektivitas oksidator terhadap alkena versus gugus karbonil.
- Riset senyawa aroma: senyawa ini menjadi prekursor maupun pembanding analitik pada penelitian flavor, fragrance, dan profil volatil bahan alam Indonesia.
| Merek | TCI (Tokyo Chemical Industry), kode produk M0252 |
|---|---|
| Nomor CAS | 110-93-0 |
| Rumus molekul | — |
| Kemurnian | — |
| Kategori | Chemistry > Building Blocks > Non-Heterocyclic Building Blocks |
| Ukuran kemasan | 25 mL |
| Bentuk fisik | cairan organik |
| Penyimpanan | simpan di tempat sejuk, kering, dan terlindung cahaya sesuai anjuran label serta SDS produsen |
Simpan botol dalam keadaan tertutup rapat di lemari bahan kimia yang sejuk, kering, dan berventilasi baik, jauh dari sumber panas, percikan api, serta oksidator kuat. Botol asli dari produsen sebaiknya dipertahankan karena tutupnya dirancang meminimalkan penguapan. Lakukan penuangan dan pengambilan di dalam lemari asam untuk menghindari terhirupnya uap. Gunakan sarung tangan nitril, kacamata pelindung, dan jas laboratorium. Hindari kontak dengan kulit dan mata, dan pastikan wadah kembali tersegel rapat sebelum dikembalikan ke rak penyimpanan.
—

