TCI F0783 Fluorescein 6-Isothiocyanate (isomer II) adalah reagen penanda fluoresen yang sangat dikenal di laboratorium biologi molekuler dan biokimia, umum disebut FITC. Senyawa ini terdiri atas inti fluoresein yang memancarkan fluoresensi hijau terang ketika dieksitasi cahaya biru, ditambah gugus isotiosianat yang berperan sebagai jangkar reaktif terhadap gugus amina. Peranannya di laboratorium adalah menghubungkan sinyal optik yang mudah dideteksi dengan molekul biologis seperti protein, antibodi, peptida, atau oligosakarida, sehingga keberadaan dan sebaran molekul tersebut dapat diamati secara langsung.
Karakteristik yang membuatnya dipilih adalah kombinasi hasil fluoresensi yang kuat dan reaktivitas penandaan yang selektif. Gugus isotiosianat bereaksi dengan amina primer, terutama gugus amino bebas pada ujung rantai maupun rantai samping lisina, membentuk ikatan tiourea yang stabil secara kovalen dan tidak mudah terlepas selama pencucian. Penawaran produk ini sebagai isomer tunggal, yaitu isomer II, merupakan keunggulan penting karena penandaan dengan campuran isomer dapat menghasilkan konjugat yang heterogen dan menyulitkan reproduksibilitas antar batch. Isomer tunggal memberikan hasil yang lebih seragam serta perilaku kromatografi yang lebih mudah diprediksi.
Di laboratorium Indonesia, FITC banyak dipakai pada pengujian imunofluoresensi, sitometri alir, mikroskopi fluoresensi, dan penelitian glikosains yang terus berkembang di berbagai perguruan tinggi serta lembaga riset kesehatan. Kemasan seratus miligram sesuai dengan pola pemakaian reagen penandaan yang umumnya hanya menggunakan jumlah sangat kecil untuk setiap reaksi konjugasi, sehingga satu kemasan dapat menunjang banyak percobaan penandaan selama disimpan dengan benar.
- Penandaan antibodi untuk imunofluoresensi, karena gugus isotiosianat membentuk ikatan tiourea stabil dengan gugus amina lisina tanpa merusak daerah pengikatan antigen.
- Analisis sitometri alir, sebab fluoresensi hijau fluoresein terbaca sangat baik pada kanal deteksi baku instrumen yang menggunakan sumber eksitasi laser biru.
- Penandaan oligosakarida dan glikokonjugat, karena penambahan gugus fluoresen memungkinkan deteksi sensitif karbohidrat yang tidak menyerap cahaya secara alami.
- Studi pelacakan protein dan pengambilan seluler, sebab konjugat fluoresein memungkinkan pengamatan langsung sebaran molekul di dalam sel menggunakan mikroskop fluoresensi.
- Pengembangan uji berbasis polarisasi fluoresensi, karena label fluoresein berukuran kecil peka terhadap perubahan laju rotasi molekul saat berikatan.
| Merek | TCI |
|---|---|
| Nomor CAS | 18861-78-4 |
| Rumus molekul | — |
| Kemurnian | — |
| Kategori | Chemistry > Chemical Biology > Glycoscience |
| Ukuran kemasan | 100 mg |
| Bentuk fisik | padatan berwarna |
| Penyimpanan | simpan dalam keadaan dingin, kering, dan terlindung penuh dari cahaya |
Simpan reagen dalam wadah asli yang tertutup rapat, terlindung penuh dari cahaya, dan dalam keadaan dingin sesuai anjuran pabrikan, karena fluoresein bersifat peka cahaya dan gugus isotiosianat mudah terhidrolisis oleh kelembapan. Gunakan botol gelap atau bungkus wadah dengan aluminium foil, dan biarkan mencapai suhu ruang sebelum dibuka agar tidak terjadi pengembunan di dalam botol. Siapkan larutan induk dalam pelarut anhidrat tepat sebelum digunakan dan hindari penyimpanan larutan dalam jangka panjang. Kenakan sarung tangan, kacamata pengaman, dan jas laboratorium, serta tangani di dalam lemari asam.
- Zarski dkk. (2018). Super Stable Fluorescein Isothiocyanate Isomer I Monolayer for Total Internal Reflection Fluorescence Microscopy. Langmuir doi:10.1021/acs.langmuir.8b02509
- Cole dkk. (1990). Internalisation of fluorescein isothiocyanate and fluorescein isothiocyanate-dextran by suspension-cultured plant cells. Journal of Cell Science doi:10.1242/jcs.96.4.721
- Maeda dkk. (2008). Identification of chemical species of fluorescein isothiocyanate isomer–I (FITC) monolayers on platinum by doubly resonant sum‐frequency generation spectroscopy. Journal of Raman Spectroscopy doi:10.1002/jrs.2131
Referensi dihimpun otomatis dari Crossref dan setiap DOI diverifikasi keberadaannya. AMI Scientific tidak berafiliasi dengan penulis maupun penerbit.
