Ethylenethiourea, dikenal pula sebagai 2-imidazolidinethione, adalah senyawa heterosiklik jenuh beranggota lima yang membawa gugus tiokarbonil di antara dua atom nitrogen. Struktur ini menjadikannya analog belerang dari etilena urea dan memberi senyawa tersebut karakter nukleofilik yang kuat pada atom belerangnya. Di laboratorium, bahan ini dipakai sebagai balok penyusun non-heterosiklik-lanjut dalam sintesis organik, sebagai sumber belerang pada pembentukan cincin tiazol dan tiol, serta sebagai bahan rujukan pada kajian kimia karet dan pestisida. Perannya melekat erat pada penelitian yang menyangkut senyawa ditiokarbamat.
Sifat yang membuatnya dipilih peneliti adalah reaktivitas gugus tiourea siklik yang terkendali. Atom belerang bersifat nukleofil lunak sehingga mudah bereaksi dengan halida alkil dan senyawa karbonil, sementara kerangka cincinnya menjaga kedua nitrogen dalam geometri tetap sehingga produk yang terbentuk lebih dapat diprediksi dibandingkan tiourea rantai terbuka. Senyawa ini berupa padatan pada suhu ruang, larut dalam air dan pelarut polar, dan dikenal luas sebagai akselerator pada vulkanisasi karet, khususnya karet polikloroprena. Perlu dicatat bahwa senyawa ini termasuk bahan dengan perhatian toksikologis tinggi sehingga penanganannya menuntut disiplin ketat.
Di Indonesia, ethylenethiourea banyak diperlukan oleh laboratorium yang bergerak di bidang analisis residu pestisida, karena senyawa ini merupakan produk degradasi dari fungisida golongan etilenbisditiokarbamat yang lazim dipakai pada komoditas hortikultura. Laboratorium karet dan polimer juga memakainya dalam kajian formulasi, sementara laboratorium kimia organik memanfaatkannya untuk sintesis. Kemasan 25 g dan 500 g memberi pilihan antara kebutuhan analitik berskala kecil dan pemakaian rutin pada riset formulasi.
- Sintesis heterosiklik belerang: atom belerang nukleofilik pada senyawa ini dimanfaatkan untuk membentuk cincin tiazol, tiazolin, serta berbagai turunan tiol melalui reaksi dengan halida alkil.
- Kajian residu pestisida: senyawa ini merupakan hasil degradasi fungisida ditiokarbamat sehingga diperlukan sebagai bahan pembanding dalam pengembangan metode analisis kromatografi.
- Penelitian vulkanisasi karet: perannya sebagai akselerator pada karet polikloroprena membuatnya penting dalam studi laju pengikatan silang dan sifat mekanis produk elastomer.
- Kimia koordinasi ligan belerang: gugus tiokarbonilnya mengikat logam lunak seperti perak, emas, dan tembaga sehingga berguna untuk membentuk kompleks model dalam penelitian anorganik.
- Studi toksikologi dan metabolisme: laboratorium ilmu hayati memakainya sebagai senyawa uji untuk menelusuri jalur metabolik dan efek biologis turunan tiourea pada sistem model.
| Merek | TCI |
|---|---|
| Nomor CAS | 96-45-7 |
| Rumus molekul | — |
| Kemurnian | — |
| Kategori | Chemistry > Building Blocks > Non-Heterocyclic Building Blocks |
| Ukuran kemasan | 25 g, 500 g |
| Bentuk fisik | padatan kristalin |
| Penyimpanan | simpan tertutup rapat di tempat sejuk, kering, dan terpisah dari bahan pengoksidasi |
Senyawa ini menuntut kehati-hatian di atas rata-rata karena tergolong bahan dengan kekhawatiran toksikologis. Tangani selalu di dalam lemari asam, gunakan sarung tangan nitril, kacamata pelindung tertutup, dan jas laboratorium berlengan panjang, serta hindari sepenuhnya kontak kulit maupun terhirupnya debu. Simpan dalam wadah asli yang tertutup rapat di lemari bahan kimia yang sejuk, kering, berventilasi, dan terkunci, terpisah dari bahan pengoksidasi kuat dan asam. Beri label peringatan yang jelas, catat setiap pengambilan dalam buku log, dan kumpulkan limbah padat maupun cair dalam wadah limbah berbahaya yang terpisah untuk diserahkan kepada pengelola limbah berizin.
- Kim dkk. (2011). Determination of Ethylenethiourea in Fruits. Korean Journal of Food Science and Technology doi:10.9721/kjfst.2011.43.3.277
- Kurttio dkk. (1991). Urinary excretion of ethylenethiourea and kidney morphology in rats after continuous oral exposure to nabam or ethylenethiourea. Archives of Toxicology doi:10.1007/bf02284260
- Panganiban dkk. (2004). Correlation between blood ethylenethiourea and thyroid gland disorders among banana plantation workers in the Philippines.. Environmental Health Perspectives doi:10.1289/ehp.6499
Referensi dihimpun otomatis dari Crossref dan setiap DOI diverifikasi keberadaannya. AMI Scientific tidak berafiliasi dengan penulis maupun penerbit.
