2-Methyl-4-phenyl-3-butyn-2-ol adalah senyawa kimia yang digunakan sebagai bahan dasar dalam sintesis senyawa organik kompleks. Bahan ini sering ditemukan dalam berbagai reaksi kimia yang melibatkan pembentukan ikatan triple karbonil, terutama dalam reaksi yang memerlukan reaktivitas tinggi. Dalam laboratorium, senyawa ini berperan sebagai bahan pembangun (building block) yang sangat penting untuk pengembangan senyawa baru, termasuk obat, bahan kimia industri, dan senyawa organik lainnya.
Senyawa ini memiliki struktur molekul yang kompleks, dengan gugus fenil dan gugus butin yang memberikan sifat reaktif dan unik. Karakteristik ini membuatnya sangat diminati dalam reaksi kimia yang memerlukan kestabilan dan reaktivitas tertentu. Karena kemurniannya tinggi dan ketersediaan yang baik, senyawa ini menjadi pilihan utama para ilmuwan dan peneliti dalam berbagai bidang ilmu kimia.
Di laboratorium Indonesia, senyawa ini digunakan secara luas dalam penelitian kimia organik, terutama dalam institusi pendidikan tinggi dan lembaga riset. Bahan ini sering diaplikasikan dalam proyek penelitian yang berkaitan dengan sintesis senyawa aktif biologis, serta dalam pengembangan bahan kimia baru yang memiliki potensi aplikasi industri dan medis.
- Sintesis senyawa aktif biologis untuk pengembangan obat
- Reaksi kimia organik yang memerlukan pembentukan ikatan triple
- Penelitian tentang struktur dan sifat senyawa kompleks
- Pengembangan bahan kimia industri dengan aplikasi luas
- Uji katalisis dan reaktivitas senyawa organik
| Merek | TCI |
|---|---|
| Nomor CAS | 1719-19-3 |
| Rumus molekul | — |
| Kemurnian | — |
| Kategori | Chemistry > Building Blocks > Non-Heterocyclic Building Blocks |
| Ukuran kemasan | 1g |
| Bentuk fisik | Cairan |
| Penyimpanan | Simpan dalam wadah tertutup rapat di tempat sejuk dan kering |
Senyawa ini harus disimpan dalam wadah tertutup rapat di tempat sejuk dan kering untuk mencegah kontaminasi dan degradasi. Karena bersifat reaktif, wadah harus terlindungi dari paparan udara dan cahaya langsung. Penggunaan harus dilakukan dalam lingkungan laboratorium yang terkontrol, dengan penggunaan alat pelindung diri seperti sarung tangan dan masker. Penanganan harus dilakukan dengan hati-hati untuk mencegah paparan langsung dan memastikan keselamatan kerja.
—

