N-Pentylaniline dari TCI adalah amina aromatik sekunder. Atom nitrogen pada anilin di dalamnya membawa satu gugus pentil, yaitu rantai alkil lurus berkarbon lima. Senyawa ini termasuk building block non-heterosiklik yang menggabungkan cincin benzena dengan rantai hidrokarbon fleksibel. Di laboratorium sintesis organik, N-pentylaniline dipakai sebagai bahan awal atau intermediat untuk membangun molekul yang mengandung fragmen N-alkilarilamina. Fragmen ini lazim dijumpai pada zat warna, bahan fungsional, dan senyawa yang sedang diteliti untuk berbagai keperluan.
Senyawa ini dipilih karena gugus N-H sekundernya masih bisa diturunkan lebih lanjut, misalnya melalui alkilasi, asilasi, atau reaksi kopling. Sementara itu, gugus pentil menambah sifat lipofilik pada molekul. Kombinasi cincin aromatik yang kaya elektron dan rantai alkil menengah membuatnya bermanfaat untuk menyetel kelarutan dan sifat fisik produk akhir. Dibandingkan anilin dengan rantai alkil pendek, gugus pentil memberi perbedaan hidrofobisitas yang jelas. Karena itu, senyawa ini menarik dalam studi hubungan struktur dan sifat dalam satu deret homolog.
Di Indonesia, N-pentylaniline cocok untuk laboratorium kimia organik di perguruan tinggi, lembaga riset, dan unit pengembangan yang menekuni sintesis amina aromatik, zat warna, atau material organik. Peneliti dapat memakainya bersama anggota deret N-alkilanilin lainnya untuk membandingkan pengaruh panjang rantai. Kemasan 5mL praktis untuk pekerjaan berskala kecil, misalnya eksplorasi reaksi, penyiapan standar analisis, atau sintesis intermediat dalam jumlah terbatas untuk penelitian tugas akhir.
- Sintesis amina tersier dan amida: gugus N-H sekunder dapat dialkilasi atau diasilasi sehingga senyawa ini menjadi titik awal praktis untuk turunan N,N-disubstitusi.
- Penelitian intermediat zat warna: fragmen N-alkilanilin lazim dipakai pada kerangka zat warna, sehingga bahan ini berguna untuk eksplorasi struktur kromofor baru.
- Studi deret homolog N-alkilanilin: rantai pentil memungkinkan perbandingan sistematis pengaruh panjang alkil terhadap kelarutan, titik didih, dan reaktivitas.
- Reaksi kopling dan substitusi aromatik: cincin benzena yang teraktivasi oleh nitrogen memudahkan substitusi elektrofilik untuk membangun molekul aromatik tersubstitusi.
- Standar pembanding analisis: senyawa murni ini dapat dipakai sebagai acuan identifikasi pada kromatografi gas atau cair saat menganalisis campuran amina aromatik.
| Merek | TCI |
|---|---|
| Nomor CAS | 2655-27-8 |
| Rumus molekul | — |
| Kemurnian | — |
| Kategori | Chemistry > Building Blocks > Non-Heterocyclic Building Blocks |
| Ukuran kemasan | 5mL |
| Bentuk fisik | umumnya berupa cairan |
| Penyimpanan | simpan tertutup rapat, terlindung dari cahaya dan udara, di tempat sejuk |
Amina aromatik cenderung berubah warna karena oksidasi bila terpapar udara dan cahaya. Karena itu, simpan N-pentylaniline dalam botol aslinya yang tertutup rapat, di tempat sejuk, gelap, dan berventilasi baik. Bila perlu, simpan di bawah gas inert. Jauhkan dari asam kuat dan bahan pengoksidasi. Senyawa golongan anilin dapat terserap melalui kulit dan bersifat toksik, jadi kenakan sarung tangan nitril, kacamata pelindung, dan jas laboratorium, serta bekerja di lemari asam. Baca SDS produsen sebelum pemakaian.
- Ranga Reddy dkk. (1994). Physical Studies of Binary Mesophase Mixtures Containing N-(p-Propoxy Benzylidene)-p-Pentylaniline. Acta Physica Polonica A doi:10.12693/aphyspola.86.385
- Ajeetha dkk. (2005). Phase Transitions and Pre-transitional Effects in N-(p-n-Pentylbenzylidene)-p-n-pentylaniline (5.5) and its Oxygen Derivatives – A Dilatometric Study. Zeitschrift für Naturforschung A doi:10.1515/zna-2005-1009
Referensi dihimpun otomatis dari Crossref dan setiap DOI diverifikasi keberadaannya. AMI Scientific tidak berafiliasi dengan penulis maupun penerbit.
