Clofazimine adalah senyawa kimia yang digunakan dalam berbagai eksperimen biokimia dan farmakologi. Sebagai antibiotik, senyawa ini memiliki aktivitas antimikrobial terhadap beberapa jenis bakteri dan parasit. Dalam laboratorium, Clofazimine sering digunakan sebagai bahan baku untuk penelitian terkait infeksi, terutama pada penyakit seperti lepra dan tuberculosis. Bahan ini juga digunakan dalam pengembangan obat baru, terutama dalam bidang farmakologi dan biokimia.
Clofazimine memiliki sifat kimia yang stabil dalam kondisi tertentu, sehingga memudahkan penyimpanan dan penggunaan dalam jangka waktu yang relatif lama. Senyawa ini juga memiliki daya larut yang baik dalam pelarut organik, sehingga mudah digunakan dalam berbagai reaksi kimia dan sintesis. Karena sifatnya yang tidak beracun dalam dosis tertentu, Clofazimine menjadi pilihan yang aman untuk eksperimen laboratorium.
Di laboratorium di Indonesia, Clofazimine digunakan dalam penelitian kesehatan masyarakat, terutama dalam studi tentang penyakit menular dan pengendalian infeksi. Bahan ini juga sering ditemukan dalam penelitian farmakologi dan biokimia di berbagai institusi pendidikan tinggi dan lembaga penelitian. Ketersediaannya di pasar lokal membuatnya mudah diakses oleh para peneliti dan ilmuwan.
- Penelitian tentang aktivitas antimikrobial terhadap bakteri dan parasit
- Pengembangan obat baru dalam bidang farmakologi dan biokimia
- Eksperimen terkait penyakit menular seperti lepra dan tuberculosis
- Sintesis senyawa kimia untuk keperluan penelitian ilmiah
- Analisis komposisi kimia dalam sampel biologis
| Merek | TCI |
|---|---|
| Nomor CAS | 2030-63-9 |
| Rumus molekul | — |
| Kemurnian | — |
| Kategori | Biochemicals and Reagents > Antibiotics |
| Ukuran kemasan | 1g, 5g |
| Bentuk fisik | Serbuk kristalin |
| Penyimpanan | Simpan dalam wadah tertutup dan jauh dari cahaya langsung |
Clofazimine harus disimpan dalam wadah tertutup rapat dan jauh dari paparan cahaya langsung untuk menjaga stabilitasnya. Tempat penyimpanan yang ideal adalah dalam ruangan sejuk dan kering, dengan suhu sekitar 20°C hingga 25°C. Karena sifatnya yang kimia, bahan ini harus dihindari dari kontak langsung dengan kulit dan mata. Penggunaan masker dan sarung tangan disarankan saat menangani bahan ini.
- Burns-Huang dkk. (2019). Mycobacterium tuberculosis cysteine biosynthesis genes mec+-cysO-cysM confer resistance to clofazimine. Tuberculosis doi:10.1016/j.tube.2019.02.002
- Cavalchini dkk. (2020). Clofazimine: Can it be Useful in COVID 19?. Asian Journal of Research in Infectious Diseases doi:10.9734/ajrid/2020/v5i430178
- GIRDHAR dkk. (1992). Red discoloration of the sputum by clofazimine simulating haemoptysis-A case report. Leprosy Review doi:10.5935/0305-7518.19920008
Referensi dihimpun otomatis dari Crossref dan setiap DOI diverifikasi keberadaannya. AMI Scientific tidak berafiliasi dengan penulis maupun penerbit.
