4-Ethoxy-2-butanone adalah senyawa kimia yang digunakan sebagai bahan dasar dalam berbagai reaksi kimia di laboratorium. Bahan ini termasuk dalam kategori building blocks, yang merupakan senyawa-senyawa dasar yang digunakan untuk membangun senyawa kompleks melalui reaksi kimia. Dalam laboratorium, senyawa ini sering digunakan sebagai prekursor untuk sintesis senyawa organik lainnya, terutama dalam bidang sintesis organik dan farmasi.
Karakteristik utama dari 4-Ethoxy-2-butanone adalah struktur molekulnya yang memiliki gugus etoksil dan karbonil, yang memberikan sifat reaktif dan kemampuan untuk berpartisipasi dalam berbagai jenis reaksi kimia seperti reaksi nucleofilik, elektrofilik, dan reaksi substitusi. Sifat ini membuatnya menjadi pilihan yang ideal untuk para peneliti yang membutuhkan senyawa yang fleksibel dan mudah diubah menjadi senyawa lain.
Di laboratorium Indonesia, 4-Ethoxy-2-butanone sering digunakan dalam penelitian kimia organik, terutama oleh institusi pendidikan tinggi dan lembaga penelitian. Bahan ini juga menjadi bagian dari eksperimen untuk mengembangkan senyawa baru, baik untuk keperluan farmasi maupun industri kimia.
- Sintesis senyawa organik kompleks untuk pengembangan obat
- Reaksi substitusi pada gugus karbonil untuk pembentukan senyawa baru
- Eksperimen kimia organik dalam pendidikan tinggi untuk memahami mekanisme reaksi
- Pengujian katalis dan reaktivitas senyawa dalam kondisi tertentu
- Pembuatan senyawa intermediet untuk produksi bahan kimia industri
| Merek | TCI |
|---|---|
| Nomor CAS | 60044-74-8 |
| Rumus molekul | — |
| Kemurnian | — |
| Kategori | Chemistry > Building Blocks > Non-Heterocyclic Building Blocks |
| Ukuran kemasan | 5mL, 25mL |
| Bentuk fisik | Cairan |
| Penyimpanan | Simpan dalam wadah tertutup dan jauh dari paparan cahaya langsung |
4-Ethoxy-2-butanone harus disimpan dalam wadah tertutup rapat di tempat yang sejuk dan kering, serta jauh dari sumber cahaya langsung. Bahan ini bersifat mudah terbakar dan harus dihindari dari paparan udara atau panas berlebihan. Dalam penanganan, pengguna harus menggunakan alat pelindung diri seperti sarung tangan dan masker, serta memastikan ventilasi yang memadai di area kerja.
—
