TCI K0078 Kartogenin adalah senyawa molekul kecil yang banyak dipakai sebagai reagen penelitian di bidang biologi sel punca, khususnya pada studi diferensiasi kondrogenik. Senyawa ini dikenal luas dalam literatur karena kemampuannya mendorong sel punca mesenkimal untuk berdiferensiasi ke arah kondrosit, yaitu sel penyusun jaringan tulang rawan. Mekanisme yang dilaporkan melibatkan pengikatan pada filamin A sehingga melepaskan CBFβ yang kemudian bekerja bersama RUNX1 di dalam inti sel. Perannya di laboratorium adalah sebagai penginduksi diferensiasi terkontrol dalam percobaan kultur sel dan rekayasa jaringan.
Sifat yang membuat kartogenin dipilih adalah statusnya sebagai molekul kecil sintetis yang stabil, sehingga jauh lebih praktis digunakan dibandingkan faktor pertumbuhan protein yang mudah terdegradasi, sensitif terhadap suhu, dan sulit dipertahankan konsentrasinya dalam medium jangka panjang. Kartogenin dapat dilarutkan dalam pelarut organik yang lazim dipakai kultur sel, ditambahkan langsung ke medium, dan dosisnya mudah diatur untuk percobaan respons konsentrasi. Karena bekerja pada jalur transkripsi yang relatif spesifik, senyawa ini juga menghasilkan fenotipe yang dapat diverifikasi melalui penanda kondrogenik dan pewarnaan matriks ekstraseluler.
Di Indonesia, kartogenin relevan bagi laboratorium riset sel punca, rekayasa jaringan, ortopedi eksperimental, serta fakultas kedokteran dan kedokteran gigi yang mempelajari regenerasi tulang rawan. Topik osteoartritis dan perbaikan jaringan sendi merupakan bidang yang terus berkembang seiring meningkatnya perhatian pada penyakit degeneratif. Kemasan 50 mg sesuai untuk kebutuhan riset kultur sel karena senyawa ini umumnya digunakan pada konsentrasi mikromolar.
- Induksi diferensiasi kondrogenik: senyawa ini mendorong sel punca mesenkimal menuju garis keturunan kondrosit, sehingga menjadi alat utama pada percobaan pembentukan jaringan tulang rawan di laboratorium.
- Penelitian rekayasa jaringan tulang rawan: kartogenin dikombinasikan dengan perancah biomaterial untuk mengevaluasi apakah kombinasi tersebut menghasilkan matriks kartilago yang lebih baik dibandingkan perancah tanpa penginduksi.
- Studi jalur pensinyalan filamin A dan RUNX1: mekanisme kerja yang telah dilaporkan membuat senyawa ini berguna sebagai alat farmakologis untuk menelusuri peran jalur transkripsi tersebut.
- Model percobaan osteoartritis: peneliti memakainya pada kultur sel atau model eksperimental untuk mempelajari potensi perbaikan jaringan sendi serta respons seluler terhadap rangsangan regeneratif.
- Pengganti faktor pertumbuhan pada protokol kultur: sebagai molekul kecil yang stabil, kartogenin dipakai untuk menyederhanakan medium diferensiasi dan mengurangi ketergantungan pada protein rekombinan yang mahal.
| Merek | TCI |
|---|---|
| Nomor CAS | 4727-31-5 |
| Rumus molekul | — |
| Kemurnian | — |
| Kategori | Life Science > Cell Biology > Stem Cell Biology |
| Ukuran kemasan | 50 mg |
| Bentuk fisik | padatan senyawa organik sintetis |
| Penyimpanan | simpan di tempat dingin, kering, dan terlindung cahaya sesuai anjuran label |
Simpan kartogenin dalam wadah aslinya yang tertutup rapat di tempat dingin, kering, dan terlindung dari cahaya sesuai anjuran pada label produk. Biarkan botol mencapai suhu ruang sebelum dibuka untuk mencegah pengembunan uap air pada padatan. Larutan induk sebaiknya disiapkan dalam pelarut yang sesuai, disaring steril bila akan dipakai pada kultur sel, lalu dibagi menjadi alikuot kecil dan disimpan beku agar terhindar dari siklus beku-cair berulang. Kenakan sarung tangan, kacamata pelindung, dan jas laboratorium saat menimbang serta melarutkan bahan.
- (2012). Osteoarthritis and Kartogenin. Science doi:10.1126/science.336.6082.643-f
- Huang (2018). Editorial Commentary: Kartogenin Promotes Wounded Enthesis Regeneration. Arthroscopy doi:10.1016/j.arthro.2018.06.040
- Zhang dkk. (2014). Kartogenin induces cartilage-like tissue formation in tendon–bone junction. Bone Research doi:10.1038/boneres.2014.8
Referensi dihimpun otomatis dari Crossref dan setiap DOI diverifikasi keberadaannya. AMI Scientific tidak berafiliasi dengan penulis maupun penerbit.
