Phenylacetaldehyde (40-55% dalam Diethyl Phthalate), dengan nomor CAS 122-78-1, adalah senyawa organik yang digunakan secara luas dalam berbagai eksperimen kimia dan sintesis molekuler. Produk ini merupakan bahan dasar (building block) yang sangat penting dalam pembuatan senyawa aromatik dan turunannya. Dalam laboratorium, senyawa ini sering digunakan untuk menghasilkan senyawa kompleks melalui reaksi substitusi atau reaksi oksidasi.
Phenylacetaldehyde memiliki sifat kimia yang stabil namun masih cukup reaktif, sehingga memungkinkan reaksi dengan berbagai reaktan lain seperti basa, asam, dan logam alkali. Kandungan Diethyl Phthalate dalam produk ini membantu dalam pengendalian reaktivitas dan memudahkan proses pencampuran serta penanganan. Karakteristik ini menjadikannya pilihan yang ideal untuk laboratorium yang membutuhkan bahan kimia yang aman dan efektif.
Dalam konteks laboratorium Indonesia, senyawa ini sangat relevan dalam penelitian kimia organik, pengembangan obat, dan produksi bahan kimia industri. Banyak institusi penelitian dan universitas di Indonesia menggunakan produk ini untuk eksperimen yang memerlukan bahan dasar dengan sifat reaktif dan stabil.
- Pengembangan senyawa aromatik dalam sintesis organik
- Pembuatan bahan baku untuk industri kosmetik dan farmasi
- Eksperimen reaksi substitusi dan oksidasi dalam kimia organik
- Penelitian tentang sifat kimia dan reaktivitas senyawa aromatik
- Pemrosesan bahan kimia untuk produksi bahan tambahan makanan
| Merek | TCI |
|---|---|
| Nomor CAS | 122-78-1 |
| Rumus molekul | — |
| Kemurnian | — |
| Kategori | Chemistry > Building Blocks > Non-Heterocyclic Building Blocks |
| Ukuran kemasan | 100g |
| Bentuk fisik | Cairan |
| Penyimpanan | Simpan dalam wadah tertutup rapat di tempat sejuk dan kering |
Phenylacetaldehyde harus disimpan dalam wadah tertutup rapat di tempat sejuk dan kering, menjauh dari sumber panas dan sinar matahari langsung. Wadah yang digunakan harus terbuat dari bahan tahan korosi seperti gelas atau plastik yang tahan terhadap bahan kimia. Dalam penanganan, harus menggunakan alat pelindung diri seperti sarung tangan dan masker, karena senyawa ini memiliki potensi iritasi. Harus dihindari kontak langsung dengan kulit dan mata, serta jangan menghirup uapnya.
—
