6-Bromo-1-hexene (TCI B2106, nomor CAS 2695-47-8) adalah senyawa kimia organik yang digunakan sebagai bahan dasar dalam sintesis senyawa kompleks. Bahan ini memiliki struktur alifatik dengan gugus bromo yang memberikan reaktivitas tinggi, menjadikannya bahan penting dalam reaksi substitusi dan reaksi adisi. Dalam laboratorium, senyawa ini sering digunakan sebagai bahan baku untuk menghasilkan senyawa heterosiklik atau senyawa dengan struktur kompleks.
Karakteristik utama dari 6-Bromo-1-hexene adalah kelarutan baik dalam pelarut organik seperti etil asetat dan toluena, serta stabilitas kimia dalam kondisi tertentu. Sifat ini memudahkan proses pemisahan dan pemanfaatan dalam berbagai reaksi kimia. Selain itu, senyawa ini memiliki sifat non-volatil yang memungkinkan penggunaan dalam berbagai skala laboratorium tanpa mengganggu proses sintesis.
Di laboratorium Indonesia, 6-Bromo-1-hexene digunakan secara luas dalam penelitian kimia organik, terutama dalam penelitian yang berkaitan dengan sintesis senyawa baru dan modifikasi struktur molekul. Bahan ini sangat relevan untuk penelitian di berbagai institusi pendidikan tinggi dan lembaga penelitian nasional yang fokus pada bidang kimia murni dan terapan.
Produk TCI terkait
- Sintesis senyawa heterosiklik untuk pengembangan obat baru
- Reaksi substitusi bromo dalam pembuatan senyawa aromatik
- Pemanfaatan dalam reaksi adisi untuk menghasilkan senyawa dengan struktur kompleks
- Penggunaan dalam penelitian material kimia untuk aplikasi industri
- Studi tentang reaktivitas senyawa organik dalam kondisi tertentu
| Merek | TCI |
|---|---|
| Nomor CAS | 2695-47-8 |
| Rumus molekul | — |
| Kemurnian | — |
| Kategori | Chemistry > Building Blocks > Non-Heterocyclic Building Blocks |
| Ukuran kemasan | 5g |
| Bentuk fisik | Cairan |
| Penyimpanan | Simpan dalam wadah tertutup rapat di tempat sejuk dan kering |
6-Bromo-1-hexene harus disimpan dalam wadah tertutup rapat di tempat sejuk dan kering untuk mencegah kontaminasi dan penguapan. Wadah yang sesuai adalah botol kaca atau plastik yang tahan terhadap reaksi kimia. Dalam penanganan, harus dihindari kontak langsung dengan kulit dan mata, serta penggunaan alat pelindung diri seperti sarung tangan dan kacamata pelindung. Bahan ini juga harus dipisahkan dari bahan-bahan yang bersifat reaktif atau korosif untuk mencegah risiko kecelakaan kimia.
—






