2-Bromo-4-chloroaniline adalah senyawa kimia yang digunakan sebagai bahan dasar dalam sintesis senyawa organik kompleks. Bahan ini memiliki struktur aromatik dengan substituen bromo dan kloro yang memberikan sifat reaktif dan keunikan dalam reaksi kimia. Dalam laboratorium, senyawa ini sering digunakan sebagai bahan pembangun (building block) untuk menghasilkan senyawa lain yang memiliki aplikasi dalam bidang farmasi, material, dan industri kimia.
Karena struktur molekulnya yang stabil dan kemampuannya untuk berpartisipasi dalam berbagai jenis reaksi kimia, 2-Bromo-4-chloroaniline menjadi pilihan utama dalam penelitian sintesis senyawa heterosiklik dan non-heterosiklik. Kehadiran substituen bromo dan kloro memberikan keunikan pada reaktivitas dan kemampuan untuk berikatan dengan berbagai reaktan lain.
Di laboratorium Indonesia, senyawa ini digunakan dalam penelitian kimia organik, terutama dalam pengembangan senyawa baru yang memiliki potensi aplikasi medis atau industri. Bahan ini juga sering ditemukan dalam proyek penelitian yang memerlukan bahan baku dengan sifat reaktif dan kestabilan tertentu.
Produk TCI terkait
- Sintesis senyawa heterosiklik untuk pengembangan obat baru
- Reaksi substitusi aromatik dalam pembuatan senyawa fungsi
- Pembuatan bahan kimia intermediet untuk industri farmasi
- Penelitian tentang reaktivitas senyawa aromatik dengan substituen halogen
- Pengembangan material organik dengan sifat tertentu
| Merek | TCI |
|---|---|
| Nomor CAS | 873-38-1 |
| Rumus molekul | — |
| Kemurnian | — |
| Kategori | Chemistry > Building Blocks > Non-Heterocyclic Building Blocks |
| Ukuran kemasan | 5g, 25g |
| Bentuk fisik | Padat berbentuk serbuk |
| Penyimpanan | Simpan dalam wadah tertutup dan jauh dari paparan udara |
2-Bromo-4-chloroaniline harus disimpan dalam wadah tertutup rapat di tempat sejuk dan kering, menjauh dari paparan sinar matahari langsung dan sumber panas. Bahan ini bersifat kimia yang relatif stabil, tetapi tetap perlu dihindari kontak langsung dengan kulit atau mata. Penggunaan harus dilakukan dalam lingkungan laboratorium yang terkontrol, dengan alat pelindung diri seperti sarung tangan dan kacamata pelindung.
—
