1,3-Phenylene Diisocyanate dari TCI, yang juga disebut m-fenilena diisosianat, adalah senyawa aromatik yang membawa dua gugus isosianat (–N=C=O) pada posisi meta cincin benzena. Bahan ini termasuk monomer dalam kelompok reagen polimer dan makromolekul. Di laboratorium, senyawa ini dipakai untuk membuat poliuretana dan poliurea melalui reaksi dengan diol atau diamina, serta sebagai agen pengikat silang (crosslinker) yang menghubungkan rantai polimer. Karena memiliki dua gugus reaktif, satu molekul dapat menyambungkan dua molekul lain sekaligus.
1,3-Phenylene Diisocyanate dipilih karena gugus isosianat aromatiknya sangat reaktif terhadap nukleofil seperti alkohol, amina, dan air, sehingga reaksi polimerisasi dapat berlangsung efisien. Geometri meta pada cincin menghasilkan rantai polimer dengan bentuk tertekuk, yang memengaruhi kristalinitas, kekakuan, dan sifat termal material dibanding isomer para. Ukurannya yang kecil dan strukturnya yang sederhana juga membuatnya cocok sebagai monomer model untuk mempelajari hubungan struktur dan sifat polimer, maupun untuk memodifikasi permukaan material yang memiliki gugus hidroksil atau amina.
Di Indonesia, bahan ini relevan bagi laboratorium ilmu material dan kimia polimer di universitas dan lembaga riset yang mengembangkan poliuretana, pelapis, perekat, maupun material berpori. Peneliti yang mengkaji poliuretana dari poliol nabati juga dapat memakainya sebagai komponen isosianat aromatik. Mengingat sifatnya yang sensitif terhadap kelembapan dan berbahaya bila terhirup, kemasan kecil 1g dan 5g sangat membantu laboratorium bekerja dengan jumlah yang terkendali.
- Sintesis poliuretana: reaksi gugus isosianatnya dengan diol atau poliol menghasilkan ikatan uretana, sehingga bahan ini menjadi monomer untuk membuat poliuretana skala laboratorium.
- Pembuatan poliurea: reaksi cepat dengan diamina membentuk ikatan urea yang kuat, cocok untuk riset material poliurea, pelapis, dan mikrokapsul berdinding polimer.
- Agen pengikat silang: dua gugus isosianatnya dapat menghubungkan rantai polimer yang mengandung gugus hidroksil atau amina, sehingga meningkatkan kekuatan dan ketahanan material.
- Modifikasi permukaan: gugus isosianat dapat bereaksi dengan gugus hidroksil pada silika, selulosa, atau material lain untuk mencangkokkan gugus fungsi baru pada permukaannya.
- Studi struktur–sifat polimer: geometri meta yang tertekuk menjadikannya pembanding terhadap isomer para dalam kajian pengaruh struktur monomer terhadap sifat termal dan mekanik.
| Merek | TCI (kode produk P1092) |
|---|---|
| Nomor CAS | 123-61-5 |
| Rumus molekul | — |
| Kemurnian | — |
| Kategori | Materials Science > Polymer/Macromolecule Reagents > Monomers |
| Ukuran kemasan | 1g, 5g |
| Bentuk fisik | padatan (lihat sertifikat analisis untuk detail) |
| Penyimpanan | sangat sensitif terhadap kelembapan; simpan tertutup rapat di bawah gas inert, ikuti suhu penyimpanan pada label |
Isosianat bereaksi dengan air dan uap lembap, menghasilkan karbon dioksida dan produk urea yang merusak mutu, bahkan dapat menaikkan tekanan dalam wadah. Simpan dalam wadah asli yang tertutup rapat, sebaiknya di bawah nitrogen atau argon, di tempat kering, dan ikuti suhu penyimpanan yang tertera pada label. Isosianat dapat menyebabkan sensitisasi saluran pernapasan dan kulit, jadi tangani hanya di lemari asam dengan sarung tangan, kacamata pengaman, dan jas laboratorium. Baca SDS sebelum digunakan.
- Hashidzume dkk. (2009). Crisscross addition polymerization of alkyl aldazines and 1,4-phenylene diisocyanate. Polymer doi:10.1016/j.polymer.2009.03.025
- Moore dkk. (1991). P-Phenylene Diisocyanate. Journal of Cellular Plastics doi:10.1177/0021955x91027001142
- Dardouri dkk. (2015). Preparation, characterization and ion adsorption properties of functionalized polystyrene modified with 1,4-phenylene diisocyanate and diethylenetriamine. Chemical Papers doi:10.1515/chempap-2015-0178
Referensi dihimpun otomatis dari Crossref dan setiap DOI diverifikasi keberadaannya. AMI Scientific tidak berafiliasi dengan penulis maupun penerbit.
