TCI I0586 Methyl 2-Iodobenzoate adalah ester metil dari asam 2-iodobenzoat, yaitu cincin benzena yang membawa gugus ester pada satu posisi dan atom iodium tepat di sebelahnya (posisi orto). Di laboratorium sintesis organik, senyawa ini termasuk balok bangun non-heterosiklik yang sangat sering dipakai karena atom iodium merupakan gugus pergi terbaik di antara halogen aromatik pada reaksi berkatalis logam transisi. Perannya adalah menyediakan titik masuk yang andal untuk memasang gugus baru pada cincin aromatik, sementara ester di posisi orto siap menjadi mitra reaksi pada tahap penutupan cincin berikutnya.
Sifat yang membuatnya dipilih adalah kemudahan aktivasi ikatan C–I. Ikatan karbon-iodium relatif lemah sehingga adisi oksidatif ke paladium, tembaga, atau nikel berlangsung pada suhu yang lebih ringan dan waktu yang lebih singkat dibandingkan analog bromo maupun kloro; hasilnya, reaksi dapat dijalankan pada kondisi yang lebih lunak dan lebih ramah terhadap gugus fungsi sensitif. Letak orto antara iodium dan ester juga memberi nilai lebih: setelah gugus baru terpasang, ester berada tepat pada jarak yang sesuai untuk laktonisasi atau laktamisasi, sehingga senyawa ini menjadi prekursor alami bagi isokumarin, isokuinolinon, dan kerangka benzosiklik lainnya. Ester metil sendiri mudah dihidrolisis atau ditukar menjadi amida saat diperlukan.
Di laboratorium Indonesia, bahan ini banyak digunakan pada riset kimia organik sintesis di perguruan tinggi, khususnya kelompok yang menggeluti reaksi kopling silang dan sintesis senyawa heterosiklik berorientasi bahan obat. Kemasan 25 gram cocok untuk pengembangan metode dan optimasi katalis, sedangkan kemasan 250 gram melayani kebutuhan sintesis multi-tahap atau pembuatan bahan antara dalam jumlah yang lebih besar untuk rangkaian percobaan lanjutan.
- Kopling silang Suzuki-Miyaura: atom iodium orto mudah mengalami adisi oksidatif pada paladium sehingga biaril tersubstitusi ester terbentuk pada kondisi yang relatif lunak.
- Kopling Sonogashira menuju isokumarin: alkuna yang terpasang di posisi orto dapat langsung disiklisasi oleh ester tetangganya membentuk cincin lakton beranggota enam.
- Reaksi Ullmann dan kopling C–N berkatalis tembaga: iodoarena ini bereaksi dengan amina atau amida untuk membangun kerangka akridon dan senyawa nitrogen aromatik.
- Reaksi Heck dan karbonilasi: ikatan C–I menjadi titik pemasangan alkena atau gugus karbonil, memperpanjang rantai samping sebelum tahap anulasi dijalankan.
- Pertukaran halogen-logam pada suhu rendah: iodium dapat ditukar dengan magnesium atau litium untuk menghasilkan nukleofil aril yang reaktif terhadap elektrofil.
| Merek | TCI (Tokyo Chemical Industry) |
|---|---|
| Nomor CAS | 610-97-9 |
| Rumus molekul | — |
| Kemurnian | — |
| Kategori | Chemistry > Building Blocks > Non-Heterocyclic Building Blocks |
| Ukuran kemasan | 25g, 250g |
| Bentuk fisik | cairan hingga padatan berleleh rendah bergantung suhu ruang setempat; rujuk lembar analisis lot |
| Penyimpanan | tempat sejuk, kering, terlindung cahaya, dalam wadah tertutup rapat |
Senyawa iodoaromatik umumnya peka terhadap cahaya dan dapat berubah warna menjadi kekuningan hingga kecokelatan apabila terpapar sinar dalam waktu lama, tanda terlepasnya sedikit iodium. Karena itu simpan dalam botol berwarna gelap atau bungkus wadahnya dengan aluminium foil, tempatkan di lemari bahan kimia yang sejuk dan kering, serta hindari sumber panas. Tutup wadah rapat setelah setiap pengambilan agar tidak menyerap uap air dan agar uapnya tidak menyebar. Kenakan sarung tangan nitril, kacamata pelindung, dan jas laboratorium; lakukan penuangan atau penimbangan di lemari asam karena ester aromatik dapat mengiritasi mata, kulit, dan saluran pernapasan. Buang sisa bahan melalui jalur limbah organik terhalogenasi sesuai prosedur laboratorium.
—
