Oleic Acid adalah asam lemak tak jenuh tunggal dengan 18 atom karbon dan ikatan rangkap cis pada posisi karbon kesembilan. Senyawa ini merupakan asam lemak yang paling melimpah di alam dan menjadi komponen utama banyak minyak nabati, termasuk minyak zaitun dan minyak sawit. Di laboratorium, oleic acid memiliki peran sangat luas: sebagai ligan dan surfaktan dalam sintesis nanopartikel, bahan formulasi, standar analisis lipid, serta building block untuk sintesis turunan oleokimia.
Oleic acid dipilih karena kombinasi gugus karboksil yang mampu berikatan dengan permukaan logam atau oksida logam dan rantai hidrokarbon panjang yang tertekuk akibat konfigurasi cis. Struktur tertekuk ini memberikan halangan sterik yang efektif untuk mencegah aglomerasi nanopartikel dan menjaga dispersinya dalam pelarut nonpolar. Wujudnya cair pada suhu ruang sehingga mudah diukur dan dicampur. Ikatan rangkapnya juga dapat dimodifikasi melalui epoksidasi, hidrogenasi, atau pemutusan oksidatif untuk menghasilkan beragam turunan.
Di Indonesia, oleic acid menjadi bahan penting bagi laboratorium nanoteknologi yang menyintesis nanopartikel magnetik dan quantum dot, laboratorium oleokimia yang mengolah turunan sawit, serta laboratorium farmasi yang mengembangkan sistem penghantaran obat berbasis lipid. Laboratorium pengujian pangan memakainya sebagai standar analisis asam lemak. Kemasan 25mL cocok untuk riset awal, sementara 500mL mendukung sintesis rutin.
- Ligan sintesis nanopartikel: gugus karboksil oleic acid mengikat permukaan nanokristal, sementara rantai cisnya mencegah aglomerasi dan menjaga dispersi dalam pelarut nonpolar.
- Sintesis quantum dot dan nanopartikel magnetik: senyawa ini umum dipakai bersama 1-octadecene atau oleylamine untuk mengendalikan ukuran dan bentuk nanokristal koloid.
- Formulasi penghantaran obat: sebagai lipid cair alami, oleic acid dimanfaatkan dalam riset nanoemulsi, peningkat penetrasi kulit, dan pembawa lipid berstruktur nano.
- Standar analisis asam lemak: oleic acid menjadi acuan utama dalam GC untuk menentukan profil asam lemak minyak nabati, termasuk minyak sawit dan turunannya.
- Riset oleokimia: ikatan rangkapnya dapat diepoksidasi atau diputus secara oksidatif untuk menghasilkan poliol, plastisizer, dan bahan baku polimer berbasis nabati.
| Merek | TCI (kode produk O0011) |
|---|---|
| Nomor CAS | 112-80-1 |
| Rumus molekul | — |
| Kemurnian | — |
| Kategori | Chemistry > Building Blocks > Non-Heterocyclic Building Blocks |
| Ukuran kemasan | 25mL, 500mL |
| Bentuk fisik | cairan (dijual dalam satuan volume) |
| Penyimpanan | wadah tertutup rapat, tempat sejuk dan gelap, terlindung dari udara, sesuai label dan SDS |
Oleic acid mudah teroksidasi bila terpapar udara, cahaya, dan panas, yang dapat menyebabkan perubahan warna dan bau. Simpan dalam botol asli yang tertutup rapat di tempat sejuk dan gelap, dan pertimbangkan pengisian gas inert setelah kemasan dibuka, terutama untuk sintesis nanopartikel yang sensitif terhadap kemurnian. Jauhkan dari oksidator kuat. Gunakan sarung tangan, kacamata pelindung, dan jas laboratorium; bersihkan tumpahan segera karena cairan ini licin. Ikuti petunjuk SDS produsen.
- Dimitriadis (1995). Antioxidant effect of oleic acid on HDL in diabetes. Atherosclerosis doi:10.1016/0021-9150(95)90036-5
- Kurokawa (1995). Similar to oleic acid, eicosapentaenoic acid stimulates apolipoprotein B secretion by inhibiting its intracellular degradation in Hep G2 cells. Atherosclerosis doi:10.1016/0021-9150(94)05399-4
- Atomi (1993). Presence of carnitine acetyltransferase in peroxisomes and in mitochondria of oleic acid-grown Saccharomyces cerevisiae. FEMS Microbiology Letters doi:10.1016/0378-1097(93)90533-8
Referensi dihimpun otomatis dari Crossref dan setiap DOI diverifikasi keberadaannya. AMI Scientific tidak berafiliasi dengan penulis maupun penerbit.
