Palmitic Acid (asam palmitat) dari TCI adalah asam lemak jenuh rantai lurus dengan enam belas atom karbon (C16). Asam lemak ini termasuk yang paling melimpah di alam, misalnya pada minyak sawit, lemak hewani, dan membran sel. Di laboratorium, asam palmitat berperan sebagai building block non-heterosiklik untuk sintesis ester, amida, garam logam, dan turunan lipid lain. Senyawa ini juga sering dipakai sebagai senyawa standar atau model dalam studi lipid, surfaktan, dan material. Strukturnya sederhana dan sudah terdefinisi dengan baik, sehingga hasil percobaan mudah dibandingkan dengan literatur ilmiah.
Asam palmitat dipilih karena memadukan rantai hidrokarbon panjang yang hidrofobik dengan gugus karboksilat yang reaktif. Gugus karboksilat ini mudah diubah lewat esterifikasi, amidasi, atau pembentukan garam. Sifat amfifilik ini membuatnya berguna dalam penelitian lapisan tipis, misel, dan modifikasi permukaan. Rantainya yang jenuh membuatnya lebih tahan oksidasi dibanding asam lemak tak jenuh, sehingga relatif stabil selama penyimpanan. Asam palmitat juga dikaji sebagai material penyimpan energi termal (phase change material) karena perilaku leleh-bekunya.
Bagi Indonesia sebagai salah satu produsen minyak sawit terbesar di dunia, asam palmitat sangat relevan untuk penelitian oleokimia, teknologi pangan, farmasi, dan energi terbarukan. Laboratorium kampus dan lembaga riset bisa memakai bahan dengan mutu reagen ini sebagai pembanding terhadap fraksi yang diisolasi dari sawit. Kemasan 25g cocok untuk sintesis dan analisis rutin, sedangkan 500g mendukung riset formulasi berskala lebih besar.
- Sintesis ester dan amida asam lemak: gugus karboksilat yang reaktif memudahkan pembuatan berbagai turunan untuk penelitian surfaktan, pelumas, dan bahan aktif.
- Standar analisis profil asam lemak: sebagai senyawa murni yang terdefinisi, asam palmitat cocok dipakai sebagai pembanding pada analisis kromatografi, termasuk setelah derivatisasi menjadi metil ester.
- Penelitian phase change material: perilaku leleh dan bekunya membuat asam palmitat banyak dikaji sebagai komponen penyimpan energi termal dalam material komposit.
- Modifikasi permukaan nanopartikel: rantai C16 yang hidrofobik bisa melapisi permukaan partikel sehingga dispersinya dalam pelarut nonpolar menjadi lebih baik.
- Studi biologi sel dan metabolisme lipid: asam palmitat sering dipakai dalam penelitian in vitro untuk mempelajari efek asam lemak jenuh terhadap sel.
| Merek | TCI |
|---|---|
| Nomor CAS | 57-10-3 |
| Rumus molekul | — |
| Kemurnian | — |
| Kategori | Chemistry > Building Blocks > Non-Heterocyclic Building Blocks |
| Ukuran kemasan | 25g, 500g |
| Bentuk fisik | padatan berwarna putih (serbuk, serpih, atau kristal) |
| Penyimpanan | suhu ruang, tempat kering, wadah tertutup rapat |
Simpan asam palmitat dalam wadah aslinya yang tertutup rapat di tempat kering dan sejuk, terlindung dari sinar matahari langsung dan sumber panas. Jauhkan dari oksidator kuat dan basa kuat. Meskipun bahayanya relatif rendah, tetap kenakan sarung tangan, kacamata pengaman, dan jas laboratorium saat menimbang, serta hindari menghirup debunya. Gunakan spatula yang bersih dan kering supaya bahan tidak terkontaminasi. Bila bahan dilelehkan, lakukan pemanasan secara terkendali di area berventilasi baik.
- NAKAZAWA (2004). Effect of annealing on starch?palmitic acid interaction. Carbohydrate Polymers doi:10.1016/j.carbpol.2004.05.011
- Shidoji (2024). Induction of Hepatoma Cell Pyroptosis by Endogenous Lipid Geranylgeranoic Acid—A Comparison with Palmitic Acid and Retinoic Acid. Cells doi:10.3390/cells13100809
- Wang (1991). Palmitic acid as an excipient in implants for sustained release of insulin. Biomaterials doi:10.1016/0142-9612(91)90133-u
Referensi dihimpun otomatis dari Crossref dan setiap DOI diverifikasi keberadaannya. AMI Scientific tidak berafiliasi dengan penulis maupun penerbit.
